Persuasif dan Negosiasi
Persuasi dan
negosiasi adalah dua bentuk dari jenis komunikasi yang bertujuan untuk
memberikan keuntungan kepada kedua belah pihak yang saling menguntungkan
tentunya. Untuk lebih jelasnya, berikut pengertian dari persuasi dan negosiasi.
Perbedaan
Persuasi dan Negosiasi
Meskipun
memiliki tujuan yang sama yaitu mendapatkan keuntungan, namun persuasi dan
negosiasi memiliki beberapa perbedaan yakni :
1.
Persuasi lebih kepada memberikan
pengaruh yang dilakukan salah satu pihak, sedangkan negosiasi lebih kepada keputusan
yang dilakukan karena hasil keputusan dari kedua belah pihak tanpa ada unsur
pemaksaan atau pengaruh.
2.
Persuasi membiarkan orang lain
(persuadee) bebas melakukan apapun yang mereka inginkan setelah persuader
berusaha meyakinkan mereka, sedangkan negosiasi tidak diberikan kebebasan
karena sudah memutuskan apa yang harus dilakukan berdasarkan kesepakatan
bersama.
3.
Persuader harus mengumpulkan informasi
dan fakta sebelum melakukan persuasi dengan orang lain, sedangkan negosiasi
tidak membutuhkannya karena mereka akan berhadapan langsung dan mengeluarkan
apa saja yang bisa dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam sebuah negosiasi.
Model
Persuasif
a. Stimulus
Respons
Model persuasi
ini cara yang paling sederhana, yaitu berdasarkan konsep asosiasi. Misalnya
jika seseorang selalu kelihatan berdua terus-menerus sepanjang waktu dan satu
saat hanya terlihat sendiri, maka orang lain akan merasakan ada sesuatu yang
kurang lengkap dan sudah dipastikan orang akan bertanya ke mana temannya itu.
Melalui slogan atau magic word tertentu dalam iklan seperti kata-kata “three in
one”, orang akan ingat pembatasan penumpang minimal tiga orang dalam satu mobil
ketika melewati Jalan Protokol, Jalan Tamrin, dan Jalan Sudirman, Jakarta pada
jam tertentu. Oleh karena itu, untuk mengingatkan orang, kata-kata populer
“Three in one” tersebut digunakan pada produk shampoo, Dimension.
b. Kognitif
Model ini
berkaitan dengan nalar, pikiran dan rasio untuk peningkatan pemahaman, mudah
dimengerti, dan logis bisa diterima. Dalam melakukan persuasi pada posisi ini,
komunikator dan komunikan lebih menekankan penjelasan yang rasional dan logis.
Artinya, ide atau informasi yang disampaikan tersebut tidak bisa diterima
sebelum dikenakan alasan yang jelas dan wajar.
c. Motivasi
Motivasi yaitu
persuasi dengan model membujuk seseorang agar mau mengubah opininya atau agar
kebutuhan yang diperlukan dapat terpenuhi dengan menawarkan sesuatu ganjaran
tertentu. Dengan memotivasi melalui pujian, hadiah, dan iming-iming janji
tertentu melalui berkomunikasi, maka lambat-laun orang bersangkutan bisa
mengubah opininya.
d. Sosial
Model persuasi
ini menganjurkan pada pertimbangan aspek sosial dari publik atau komunikan,
artinya pesan yang disampaikan itu sesuai dengan status sosial yang
bersangkutan sehingga proses komunikasi akan lebih mudah dilakukan. Misalnya,
kampanye iklan mobil mewah lebih berhasil kalau menonjolkan sesuatu yang
“prestise” daripada menampilkan kelebihan mesin dan irit bahan bakarnya karena
konsumen berduit lebih memperhatikan penampilan status sosialnya.
e. Personalitas
Model persuasi
di sini memperhatikan karakteristik pribadi sebagai acuan untuk melihat respon
dari khalayak tertentu.
Faktor
Yang Penghambat dalam Persuasif
1. Perbedaan
status (Hambatan Sosiologis); Komunikasi sering tidak tercapai, bila orang yang
terlibat memiliki perbedaan status sosial yang mencolok.
2. Perbedaan
Bahasa dan Budaya (Hambatan Antropologis); Proses komunikasi pada hakekatnya
adalah proses transformasi nilai sosial budaya diantara orang yang terlibat.
Komunikasi dapat berjalan lancar, bila dilakukan oleh mereka yang berlatar
budaya sama, dimana penggunaan bahasa dan lambang yang sama akan mudah dipahami
diantara mereka.
3. Hambatan
Psikologis;
Ø Prasangka;
menjadi pembatas dalam berkomunikasi secara terbuka, jujur, harmonis dan saling
menghormati. Prasangka dalam komunikasi sosial biasanya karena stereotyping;
Ø Kepentingan
pribadi (hidden agendas); komunikasi tidak berlangsung alamiah dengan aliran
pesan saling pengertian, bila satu pihak memiliki kepentingan yang tidak mewakili
kepentingan bersama
Ø Apriori
terhadap perubahan; komunikasi akan terhambat, bila khalayak apriori terhadap
setiap gagasan perubahan yang dirancang sebagai tujuan komunikasi persuasif.
Komunikasi ini harus dibangun atas dasar keterbukaan dan saling menghargai
setiap gagasan inovatif diantara orang yang berkomunikasi; dan
Ø Pengalaman; Kepribadian dan perilaku umumnya
dibentuk oleh pengalaman, baik yang dialami secara sadar maupun tak disadari.
Mereka yang melalui pengalaman yang berbeda akan mengalami kesulitan dalam
mencapai tujuan komunikasi.
4.
Hambatan Semantik; Ketidakpahaman
terhadap penguasaan perbendaharaan kata dan tata bahasa dapat menimbulkan
miskomunikasi dan mispersepsi diantara orang yang berkomunikasi. Tujuan
komunikasi pun akan mengalami kegagalan karena adanya kesalahan pemahaman
tentang pesan yang disampaikan.
5.
Hambatan Ekologis; Hambatan ini terjadi
karena gangguan lingkungan terhadap proses berlangsungnya komunikasi. Hindarkan
situasi dan kondisi lingkungan yang bising, tidak nyaman dan mengganggu saat
membangun proses komunikasi.
Tahapan
Kesuksesan Negoisasi
Tahap
pertama perundingan diawali dengan presentasi, yaitu pemaparan informasi,
topic, maupun pendapat, yang disampaikan kepada pihak lain. Pesentasi merupakan
tahap untuk bertukar informasi dan memantapkan posisi dalam negoisasi.
Dibutuhkan kreatifitas agar negoisasiator dapat menyampaikan pernyataan yang
menarik dan persuasive serta agar dapat mengadapi pernyataan yang di sampaikan
pihak lain.
Tahap
selanjutnya adalah bargaining atautawar-menawar merupakan proses yang dilakukan
negpsiator untuk mencapai kesepakatan. Pada tahap ini, setiap pihak berusaha
menawarkan solusi dari suatu isu yang menjadi pembahasan. Tahap ini ditunjukan
untuk menyatukan berbagai kepentingan yang berbeda dan mencapai persetujuan
akhir sebagai bentuk kesepakatan negoisasi. Hal tersebut dilakukan karena
melalui tawar menawar dalam kegiatan negoisasi. Selama tahap ini, terdapat
kemungkinan negosiator untuk menurunkan tuntutannya dan berusaha menyeimbangkan
dengan permintaan dan tawaran yang diberikan oleh pihak lain. Hal tersebut
dilakukan karena melalui tawar-menawar dalam kegiatan negosiasi, negosiator
berusaha mencapai persetujuan yang berujung pada kesepakatan dan kerjasama.
Terdapat strategi dan taktik yang harus diperhatikan agar kegiatan
tawar-menawar dapat berhasil, terutama taktik yang diterapkan pada kegiatan
melobi pihak lain. Adanya kemampuan melobi yang baik akan mendukung proses
tawar-menawar menjadi lebih efisien, karena negosiator akan lebih mudah untuk
membuat pihak lain menyepakati tawaran yang diberikan (Brams, 2003). Namun
demikian, proses tawar-menawar cenderung menghabiskan banyak waktu karena
kegiatan tawar-menawar tidak selalu berjalan seefisien yang diharapkan (Brams,
2003). Hal tersebut dikarenakan, setiap pihak yang terlibat akan berusaha
mempertahankan kepentingannya, sehingga mempersulit dicapainya kesepakatan.
Kondisi demikian menimbulkan toughness dilemma yang mendorong pihak-pihak yang
terlibat untuk melakukan sabotase
terhadap kesepakatan yang akan dibuat (Brams, 2003). Semakin keras tindakan suatu pihak, maka
peluang perjanjian tersebut berada di posisi yang tidak disepakati akan semakin
besar. Sedangkan semakin lunak tindakan suatu pihak, maka kemungkinan
tercapainya kesepakatan akan semakin besar.
Tahap
terakhir dalam perundingan dan juga sebagai tahap yang paling di tunggu adalah
hasil atau output.
Sumber
:
http://4letha.blogspot.co.id/2008/11/komunikasi-persuasif.html
http://www.astalog.com/1677/perbedaan-persuasi-dengan-negosiasi.htm
http://yohaneswilliamsantoso-fisip15.web.unairid.ac./artikel_detail-175548-(SOH203)%20Negosiasi%20dan%20Diplomasi-Tahap%20Perundingan%20Sebagai%20Kunci%20Kesuksesan%20Negosiasi.html
Komentar
Posting Komentar